Sabtu, 22 November 2008

Belajar dari Proses Kreatif Piyu

“Kita pasti akan rekaman entah kapan waktunya. Kita hanya perlu keyakinan”

Piyu PADI



Anda mungkin tidak mengenal Satriyo Yudi Wahono. Tetapi apakah Anda menyangkal bahwa Anda tidak mengenal Piyu salah seorang anggota group musik terkenal PADI? Hampir semua anak muda mengenalnya. Satriyo Yudi Wahono adalah nama lengkap dari Piyu alumnus Fakultas Ekonomi (FE) Unair Surabaya yang meraih sukses bukan sesaat, tetapi melalui proses perjuangan yang panjang. PADI yang awalnya group musik kecil, kemudian berubah menjadi besar. Bahkan lagunya “Sesuatu yang Tertunda” pernah mencapai rekor penjulan 250 ribu dalam satu pekan. Saat ini diperkirakan lebih dari 1,5 juta keping kasetnya sudah terjual. Group itu pun pernah meraih pernghargaan triple platinum.

Mengapa harus Piyu? Lihat saja proses kreatifnya. Ia sudah punya impian masa kecil (saat berumur 6 tahun) untuk menjadi musisi. Ia semakin yakin atas pilihannya itu ketika umur 15 tahun. Setelah tiga tahun membentuk band, dengan modal nekat Piyu dengan teman-temannya pergi ke Jakarta. Apakah ia langsung sukses? Tidak. Dia harus bekerja di bengkel mobil. Pagi bekerja di bengkel, malam hari nongkrong di berbagai tempat studio musik Jakarta. Bahkan ia pernah menjadi cleaning service di HERO Supermarket. “Aku bekerja mulai pukul 10 malam hingga jam 5 pagi”, akunya.

Kemudian, ia menjadi crew band untuk mempersiapkan alat-alat musik. Apakah ia kecewa dengan itu semua? Tidak. Ia bahkan menganggap itu semua merupakan proses dari keberhasilan itu sendiri.

Apa yang menjadi kunci keberhasilan Piyu? Pertama, dia telah memiliki impian atau sasaran yang jelas dalam hidup ini. Kedua, dia bekerja keras dan selalu fokus pada pencapaian impiannya. Untuk selalu menumbuhkan energi dan semangat, ia selalu berusaha berada dalam suasana atau lingkungan musik. Selain itu, ia juga mau belajar dari musisi terkenal lain melalui biografinya. Ketiga, dia tidak pernah menyerah atas situasi apapun dan memiliki keyakinan yang teguh bahwa suatu saat dia akan bisa meraih cita-citanya. Ketika demo rekamannya ditolak dimana-mana, Piyu berkata pada teman-temanya di PADI, “Kita pasti akan rekaman, entah kapan waktunya. Kita hanya perlu keyakinan.”

Apa hikmah yang bisa kita petik dari Piyu? Kalau Anda benar-benar serius untuk menulis artikel, Anda harus punya impian dan sasaran yang jelas untuk mewujukannya. Pusatkan pikiran demi kesuksesan menulis artikel itu. Kalau sekarang Anda masih punya pikiran yang bercabang-cabang, coba mulai pusatkan sedikit demi sedikit. Niatkan dengan hati yang teguh dan kuat. Kalau perlu berteriaklah sekeras-kerasnya, “Aku bisa!” berkali-kali. Sebab ucapan ini untuk membangkitkan pikiran bawah sadar kita yang tengah tertidur. Kalau tidak bisa, lebih baik Anda buang saja impian menulis artikel itu.

Disamping itu, kerja keras juga penting. Kerja keras ini antara lain dengan cara bagaimana agar menulis artikel itu bisa berhasil, bahkan dengan cara apapun. Entah dengan jalan mengurangi tidur, meningkatkan budaya baca, bertanya pada orang lain, atau membaca buku tentang teknik penulisan. Termasuk di sini Anda harus pandai-pandainya berada dalam lingkungan dan situasi menulis. Misalnya, Anda bergaul dengan orang-orang yang bersemangat atau sudah berhasil menulis. Masalahnya, sepintar apapun Anda menulis, kalau lingkungan tidak mendukung sedikit banyak akan menemui kesulitan dalam menulis. Kecuali, keinginan kuat menulis itu sudah “mendarah daging”. Maka, lingkungan kadang menjadi sebuah daya dorong kuat bisa maju atau tidaknya kita.

Saya punya teman dekat yang juga sering menulis. Namanya Tommy Sasongko (sekarang redaktur harian Bisnis Indonesia) dan Tonny Trimarsanto (sekarang sutradara film). Dia kakak kelas saya saat kuliah di Fisip UNS, tetapi sudah seperti teman sendiri. Suatu saat saya lama tidak menulis artikel. Maklum saya sedang punya problem dengan calon istri saya. Problem itu ternyata menyita waktu, tenaga dan pikiran. Sehingga gairah menulis saya berkurang. Suatu saat dua teman saya itu datang ke kos saya. Yang diobrolkan apalagi kalau bukan masalah menulis, termasuk diskusi kecil dengan thema lain. Namanya sesama penulis. Teman saya itu mendorong saya terus menulis. Dia bahkan sempat mengatakan, “Untuk apa kamu tidak menulis hanya masalah “kelamin” begitu saja?,” kata teman saya itu dengan serius. Saya jadi terkesan pada mereka. Bukan caranya memarahi yang saya lihat, tetapi dorongannya untuk menulis. Mereka tidak melihat saya sebagai pesaing, justru partner. Kalau saya lancar menulis, dia juga akan ikut terpengaruh lancar menulis. Jadi, bergaul dengan orang-orang yang bisa mendorong menulis bukan saja dianjurkan, tetapi mutlak dilakukan.

Nggak percaya? Coba Anda bergaul dengan orang-orang biasa saja. Anda hanya akan bisa seperti orang-orang itu sampai kapanpun. Anda bergaul dengan mereka yang pekerjaannya tidur, maka hanya tidur saja yang akan Anda dapatkan. Piyu sendiri harus rela mengurangi tidur dan bergaul dengan studio musik untuk mewujudkan ambisinya. Bahkan ia harus rela hari bekerja di bengkel pada siang hari.

Piyu juga tidak segan-segan belajar dari orang lain, baik melalui buku-buku atau bergaul langsung dengan musisi terkenal. Ini untuk terus menumbuhkan semangat. Bahkan dia bisa belajar dari mereka. Biasanya, penulis pemula cenderung malu untuk mengatakan ia sedang belajar menulis. Kalau begini caranya, percepatan Anda bisa menulis artikel akan lambat atau bahkan tak sampai ke tujuan. Penulis yang sudah berhasil akan memahami kesulitan penulis pemula. Kenapa? Dia juga pernah mengalami kasus seperti yang sedang Anda rasakan.

Yang pasti, penulis artikel perlu punya keyakinan teguh bahwa apa yang dia usahakan suatu saat nanti akan berhasil. Tapi, itu semua sangat tergantung bagaimana caranya Anda serius. Ibaratnya, Anda membuka jalan di tengah hutan, bisa berhasil atau tidak sangat tergantung niat kuat dan teguh. Artinya, jangan ada halangan sedikit saja, terus mundur. Dengan kata lain, ditolak tulisannya terus putus asa. Atau dikomentari bahwa tulisannya jelek, tidak mau meneruskan. Wah, kalau begini hilangkan mimpi menulis artikel dari pikiran Anda. Kenapa? Daripada membuang-buang enerji, bukan?

Ingat baik-baik pesan Piyu, “Yang terpenting adalah kita tidak pernah menyerah dan memiliki keyakinan bahwa jika kita tidak pernah menyerah, keberhasilan itu akan datang. Entah kapan, tapi pasti”.

Tidak ada komentar: